Pewarta.TV, Ponorogo – Reses anggota DPRD bukanlah ajang seremonial untuk sekadar menyapa konstituen. Di titik inilah denyut nadi kebutuhan warga yang sebenarnya bisa dirasakan.
Hasil penjaringan aspirasi masyarakat memiliki arti yang sangat strategis. Aspirasi yang datang langsung dari bawah, dari warung kopi hingga pelataran masjid, dapat menjadi bahan evaluasi jitu bagi pemerintah daerah sekaligus referensi utama dalam menentukan skala prioritas pembangunan.
Sebab, pembangunan daerah pada akhirnya bukan soal seberapa banyak program yang mampu dilaksanakan dan menghabiskan anggaran. Tetapi seberapa jauh program tersebut benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
Menurut Wakil Ketua DPRD Ponorogo, Evi Dwitasari, dari hasil reses DPRD Ponorogo terbaru, mengerucut tiga pesan besar yang kini menjadi pekerjaan rumah bersama antara legislatif dan eksekutif.
Pertama, infrastruktur yang merata. Warga di pelosok masih mengeluhkan jalan rusak, jembatan tak layak, dan irigasi yang tak berfungsi. Mereka tidak butuh jalan tol, mereka hanya butuh jalan desa yang mulus untuk mengangkut hasil panen.
Kedua, pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Masyarakat berharap akses sekolah yang layak dan layanan kesehatan gratis yang tidak berbelit-belit. Puskesmas harus hadir dengan pelayanan prima, bukan sekadar bangunan megah tanpa tenaga medis.
Ketiga, pemberdayaan sosial yang berkelanjutan. Bukan bantuan sesaat yang habis dalam sehari, melainkan program pemberdayaan UMKM, pelatihan keterampilan pemuda, dan penguatan ekonomi kerakyatan yang mampu mengangkat kesejahteraan jangka panjang.
“Bagi kami di DPRD Ponorogo, hasil reses ini merupakan komitmen politik untuk memastikan suara masyarakat tidak berhenti dan menguap di ruang pertemuan”, ujar Evi Dwitasari, usai rapat paripurna, Senin (31/08/2026).
Lebih lanjut, legislator PDIP tersebut menegaskan bahwa aspirasi yang telah dititipkan warga diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang responsif, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata, bukan hanya menjadi tumpukan dokumen di atas meja.
“Kini bola ada di tangan Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Mampukah tiga pesan sakti dari rakyat ini benar-benar diwujudkan menjadi program yang menyejahterakan seluruh warga Bumi Reog, semoga semua bisa tercapai dan menjadikan Ponorogo lebih baik lagi”, tandasnya. (adv/ns)